Program Keluarga Berencana Menurut Hukum Islam

keluarga-bahagia1 Indonesia merupakan Negara dengan pertumbuhan penduduk terbesar serta menghadapi masalah jumlah dan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan kelahiran 5.000.000 per tahun. Untuk mengatasi peledakan yang tidak terkendali pemerintah mencetuskan program Keluarga Berencana. Esensi tugas program Keluarga Berenacana (KB) dalam hal ini telah jelas, yaitu menurunkan fertilitas agar dapat mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagian dan kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

 Namun pro dan kontra mengenai penggunaan berbagai alat kontrasepsi sebagai upaya melaksanakan Keluarga Berencana masih menjadi salah satu topik utama yang diangkat oleh sebagian para ahli agama di Indonesia seperti kaum ulama. Sehingga pelaksanaan program KB masih harus dilihat dari pandangan hukum islam.

Berikut penjelasan mengenai Program Kelurga Berencana (KB) menurut hukum Islam

Iklan

A. Pengertian Keluarga Berencana menurut UNDANG-UNDANG

l

Keluarga Berencana (KB) adalah sebuah program yang dicanangkan pemerintah dalam menekan kepadatan penduduk. Pengertian program Keluarga Berencana (KB) menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1992 pasal 1 ayat 12, (tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Sedangkan pengertian program Keluarga Berencana (KB) menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009, BAB I PASAL 1 AYAT 8 KETENTUAN UMUM (tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan  dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.

B. Pandangan Hukum Islam tentang Keluarga Berencana

b

Para ulama yang membolehkan KB (adalah Imam al-Ghazali, Syaikh al-Hariri, Syaikh Syalthut ) sepakat bahwa Keluarga Berencan (KB) yang dibolehkan syari`at adalah suatu usaha pengaturan/penjarangan kelahiran atau usaha pencegahan kehamilan sementara atas kesepakatan suami-isteri karena situasi dan kondisi tertentu Baca lebih lanjut

1. Hukum Islam yang mendukung pelaksanaan KB

  1. Menurut pandangan Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memberikan petunjuk yang perlu kita laksanakan dalam kaitannya dengan KB diantaranya ialah :

Surat An-Nisa’ ayat 9:

وليخششش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم فليتقواالله واليقولوا سديدا

“Dan hendaklah takut pada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah.Mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Baca lebih lanjut

2. Hukum Islam yang melarang pelaksanaan KB

KB menjadi haram jika KB tersebut bertujuan untuk “membunuh” anak atau membatasi keturunan, maka program KB dilarang, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Israa’ : 31

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut (kemiskinan) kami akan memberi rizqi kepadamu dan kepada mereka”.

Sebenarnya program KB dalam arti sempit dapat diartikan dengan membatasi jumlah anak. Namun, itu dilakukan bukan dengan cara membunuhnya, melainkan dengan cara misalnya menunda usia pernikahan sampai usia yang secara reproduktif siap untuk melahirkan, mengatur jarak kelahiran misalnya jarak antara anak pertama dan kedua minimal 2-3 tahun.

Membatasi keturunan hukumnya Haram (Tahdid Nasl)

Termasuk disini:

  1. Slogan 2 anak cukup yang dicanangkan pemerintah, padahal bagaimana suami dan istri dalam keadaan mampu dan sehat.
  2. Alasan karir atau untuk hidup senang atau hal-hal lain yang serupa yang dilakukan para wanita zaman sekarang ini.Semua hal tersebut juga tidak boleh.
  3. Membatasi anak karena takut miskin, padahal Allah sudah mengatur rezeki seseorang

وكأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-’Ankabuut: 60)

C. Macam-macam Alat Kontrasepsi

de

Dalam pelaksanaan KB harus menggunakan alat kontrsepsi yang sudah dikenal diantaranya ialah:

  1. Pil, berupa tablet yang berisi progrestin yang bekerja dalam tubuh wanita untuk mencegah terjadinya ovulasi dan melakukan perubahan pada endometrium.
  2. Suntikan, yaitu menginjeksikan cairan kedalam tubuh. Cara kerjanya yaitu menghalangi ovulasi, menipiskan endometrin sehingga nidasi tidak mungkin terjadi dan memekatkan lendir serlak sehingga memperlambat perjalanan sperma melalui canalis servikalis.
  3. Susuk KB, levermergostrel. Terdiri dari enam kapsul yang diinsersikan dibawah kulit lengan bagian dalam kira-kira sampai 10 cm dari lipatan siku. Cara kerjanya sama dengan suntik.
  4. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) terdiri atas lippiss loop(spiral) multi load terbuat dari plastik harus dililit dengan tembaga tipis cara kerjanya ialah membuat lemahnya daya sperma untuk membuahi sel telur wanita.

Baca lebih lanjut

D. Cara KB yang Diperbolehkan dan Yang Dilarang oleh Islam

  •   Cara yang diperbolehkan

Ada beberapa macam cara pencegahan kehamilan yang diperbolehkan oleh syara’ antara lain, menggunakan pil, suntikan, spiral, kondom, diafragma, tablet vaginal , tisue. Cara ini diperbolehkan asal tidak membahayakan nyawa sang ibu. Dan cara ini dapat dikategorikan kepada azl yang tidak dipermasalahkan hukumnya.

Dari salah satu kasus yang telah dipaparkan diatas Banyak hal yang seyogyanya membuat kita ragu tentang masalah KB ini. Untuk lebih mendalami Masalah ini berikut uraian – uraian yang dapat disampaikan:

  •  Alasan tidak diperbolehkannya KB

Hukum KB bisa haram jika menggunakan alat atau dengan cara yang tidak dibenarkan dalam syariat islam. Baca lebih lanjut

Referensi